Indonesia Juara Menyelam, Setelah Itu Apa?

article featured image

Wouuuww. Indonesia juara diving (menyelam) lagi? Ngga salah? Iya…benar….!!! Plok…plok…selamat ya.

Pertanyaan “nakal” nih, selamat kepada siapa ya? Haiyaaa, Kok ditanya, ya kepada yang merasa juara dong. Indonesia… hahaha… Lho, negeri ini kan beragam kelompok, masyarakat, birokrat, lembaga, yang tidak semua berkepentingan langsung dengan dunia selam. Jadi kalau ucapan selamat, congratulation, saya tujukan kepada ketua partai, pasti ngga relevan dong.  Gitu lho maksudnya…hahaha….

Baiklah ini bukan canda lho. Baru-baru ini majalah Internasional Dive Magazine menempatkan 5 titik penyelaman (spot dive) masing-masing: Raja Ampat Papua, Alor NTT, Pulau Komodo NTT, Lembongan Bali, dan Lembeh Sulawesi Utara sebagai Top World Diving Destinations 2017.

Maksudnya, para penyelam SCUBA (Self Contain Underwater Breathing Apparatus-kegiatan penyelaman bawah air yang menggunakan sejumlah alat untuk bernapas dan menopang aktivitas selama di bawah air), penyelam rekreasi, asing maupun lokal, tidak segan-segan memilih kelima tujuan tersebut untuk menikmati rekreasi bawah laut.

Sarat Prestasi

Bagi publik yang kegiatan hobi maupun aktivitasnya tidak bersentuhan dengan dunia bawah laut, Ke-bahari-an barangkali merasa heran. Kok bisa ya bawah laut Indonesia terkenal sampai ke mancanegara. Apalagi gelar itu asalnya bukan dari media dalam negeri ini. Berdasarkan survei kah?

Gelar tadi hasil kalkulasi voting berbagai kalangan. Memang tidak disajikan detail masing-masing profil yang terlibat voting. Secara umum melibatkan para penyelam aktif, pasif termasuk “veteran” yang sudah tidak menjalani kegiatan menyelam, peminat kegiatan bawah air, praktisi kegiatan menyelam termasuk instruktur, pemandu, penjual alat-alat menyelam. Pesaing Indonesia cukup berat. Rata-rata industri selam sudah berkembang dan maju. Sebutlah Filipina, Maldives, Laut Merah, Australia, Thailand. Woouww…. hebat. Sekali lagi selamat ya. Sebuah prestasi yang membanggakan.

Menyikap gelar yang membanggakan tadi, tanggapan Menteri Pariwisata kesannya tidak terkejut. Tuturnya, sepanjang 2011-2015 tidak hanya Dive Magazine tapi juga Majalah Scuba Diving–panduan traveller dunia penyuka diving dan snorkeling–pernah memberi acungan jempol pada destinasi selam andalan Indonesia tersebut. Pada 2011 terpilih sebagai jawara untuk wilayah Indo-Pasific dalam empat dari delapan kategori yang dilombakan majalah itu. “Semua potensi wisata bahari kita memang world class,”

Kalau dibuat list lebih detail masih banyak lagi kategori yang pernah menjadi juara selain list di atas. Tahun 2011 meraih juara untuk kategori Macro Life, Overall Rating of Destination, dan Healthof Marine Environment, Underwater Photography. Semuanya urutan pertama se-asia pasifik.

Tahun 2012, meraih juara untuk kategori The Best Marine Parkyang merujuk Bunaken Marine Park, kategori The Best Shore Dive yang dipegang Wakatobi House Reef. The Best Topside gelar dipegang Bali. Kategori The Best Live Aboard dimenangkan Indo Siren, salah satu operator penunjang kegiatan selam dari Indonesia. Kategori The Best Night Dive direbut oleh Nudi Falls yang adanya di Selat Lembeh, Sulawesi Utara.

article featured image

Tahun 2013, Tiga gelar terbaik di rebut Indonesia untuk kategori The Best live-Aboard milik Arenui-Indonesia yaitu operator penyelenggara perjalanan laut untuk tujuan diving, Kategori The Best Dive Site House Reef milik Wakatobi Dive Resort, The Best Bar milik Cafe Billiard di Bali.

Di 2014, meraih belar untuk kategori The Best Shore Dive yaitu USS Liberty Wreck Tulamben Bali. Kategori The Best Live Aboard masih dipertahankan oleh Arenui-Indoneia. Juara untuk kategori The Best Animal Encounter menunjuk salah satu spot di Raja Ampa- Indonesia. Juara kategori Best Night Lifedan Best Night Dive dimenangkan salah satu operator selam di Bali dan Arborek Jetty di Raja Ampat Indonesia.

Untuk 2015, Indonesia kembali masuk ke dalam daftar top 100 spot diving terbaik. Di kategori The Best Underwater Photography region Pasifik dan Indian Oceans, dimenangkan oleh fotografer bawah laut, Rodger Klein, yang obyeknya di Selat Lembeh, Sulawesi Utara, Yang menang diver asing tapi obyeknya ada di Indonesia. Untuk kategori The Best Macro Diving region Pacific and Indian Oceans yang berhasil diboyong ke Indonesia.

Wooouwww…. banyak sekaleee. Kebanyakan istilah asing. Iya, karena yang bikin survei ya media asing. Membayangkan kalau semua perwakilan pemenang dipanggil satu per satu naik ke panggung, kebanyakan dari Indonesia. Ck…ck….ck…. Makanya wajar untuk gelar tahun ini Menteri Pariwisata kesannya nggak heran. Lah wong udah sering juara.

Dari banyak kategori yang dimenangkan pihak Indonesia, menunjukkan kegiatan menyelam di negeri ini melibatkan banyak pihak. Pihak yang biasa terlibat baik langsung atau tidak langsung sebutlah:

Pelaku selam itu sendiri (diver),

Pemandu dan instruktur selam,

Lembaga atau agency yang berwenang menyelenggaran pendidikan, pelatihan, serta mengeluarkan diving licence. Sebutlah POSSI (Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia), CMAS (Confideration Mondiale des Activites Subaquatiques). CMAS adalah salah satu lembaga internasional berpusat Roma-Italia, PADI (Professional Association of Diving Instructors) kantor pusat di California United State,NAUI (The National Association of Underwater Instructors) kantor pusat di Florida United State, SSI (Scuba School International) yang untuk wilayah Indonesia berkantor pusat di Bali.

  • Penyelenggara (operator) kegiatan selam. Maksudnya yang adakan trip selam (dive trip) baik komersial atau non profit.
  • Resort atau penginapan yang sering dianggap penting untuk kegiatan selam,
  • Penyedia jasa transportasi menuju titik penyelaman,
  • Kondisi lokasi di sejumlah titik penyelaman,
  • Obyek yang di jumpai di titik penyelaman,
  • Pihak penjual atau penyewaan alat selam
article featured image

Minat Lokal?

Bahwa sejumlah gelar tadi menunjukkan bertapa minat wisatawan asing khususnya yang menggemari dunia bawah laut berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk menyelam. Keberuntungan negeri ini yang berada di garis Khatulistiwa, yang menjadikan kekayaan laut berupa terumbu karang dan lainnya sebagai yang tersehat di dunia. Tidak jarang penyelam asing merasa puas menikmati bawah laut di sejumlah titik penyelaman negeri ini.

Melihat banyaknya pihak yang terlibat dalam kegiatan menyelam, berarti sudah semakin banyak pihak yang memahami jenis rekreasi seperti ini. Berasumsi sejumlah gelar tadi signifikan dengan minat masyarakat Indonesia pada umumnya untuk kegiatan menyelam. Bukankah sudah umum di ketahui bahwa negeri ini terkenal sebagai negeri kepulauan. Ini pelajaran sekolah dasar.

Betul, memang sudah cukup banyak sebagiian masyarakat Indonesia yang mulai memberikan apresiasi keindahan bawah laut negeri ini. Sayangnya itu baru tahap apresiasi. Tahap apreasiasi belum menjamin munculnya minat yang di ikuti dengan kegiatan menyelam secara masal. Artinya, minat menekuni kegiatan menyelam rekreasi masih TERBATAS justru di kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Hhhhmmm…perlu “trenyuh” ngga ya.

Saya masih terbayang lebih dari sekali nyelam di Bunaken, Manado. Wuaaa itu spot nyelam paling asyik banget. Meski sempat ada gosip-gosip terumbu karang disana banyak yang rusak, faktanya saya dan kawan-kawan pernah nyelam 5 hari termasuk 1 hari di Lembeh, Bitung, 2 jam dari Manado.

Dalam sehari bisa nyelam 3 kali. Kalau masih kuat bisa tambah nyelam malam. Turun di spot selam yang beragam dan benar-benar amazing. Ternyata ada kurang lebih 50 spot selam yang baru terdeteksi di sekitar Bunaken. Artinya, masih ada ada potensi spot selam yang lain yang belum di perkenalkan kepada rekan-rekan diver. Singkat kata,

Bunaken termasuk luar biasa…!!! Tapi terasa kaget manakala beberapa kali ketemu kawan-kawan asli dan tinggal disana, ternyata cuma sekadar dengar bawah laut Bunake bagus. Udah pernah turun? Belum. Cuma snorkling aja. Woooowww……saya sempat terheran-heran. Pikir ku tadinya karena dekat dengan bunaken, pasti kawan-kawan dari sana banyak yang suka nyelam. Padahal, ibarat pekarangan rumah, tinggal melangkah sedikit bisa berjumpa surga bawah laut. Faktanya dari sekian teman-teman disana, ternyata tidak suka nyelam. Ya, saya cuma bisa woouww…karena ini menyangkut selera dan hobi saja.

Obrolan dengan beberapa rekan instruktur selam memang mengakui ada trend kenaikan kuantitas calon-calon diver lokal. Penyelenggara/operator selam juga mengakui sudah mulai bertambah tamu-tamu lokal yang ingin menyelam di Bali, Bunaken, Wakatobi, bahkan Raja Ampat. Berita baik tentunya. Sayangnya jika dilakukan perbandingan ternyata masih banyak peminatnya penyelam asing. Seorang instruktur selam mengatakan, dia tidak heran lagi yang mendaftar untuk pendidikan dan mengambil licence kebanyakan orang asing, entah expatriat yang tinggal sementara di Indonesia atau turis asing yang sedang berlibur di negeri ini.

Jadi What's next? agar gelar kebanggaan itu bisa secara optimal di nikmati oleh masyarakat lokal negeri ini?

Langkah promosi yang terus menerus memberikan harapan semakin bertambahnya minat lokal terhadap kegiatan menyelam. Gaung kebanggan akan sejumlah gelar tadi memang memberikan apresiasi.

Namun jika tidak dirangsang upaya terus menerus, apresiasi tingggal apresiasi. Ibaratnya, setiap orang bisa memberikan selamat, bisa memberikan acungan jempol atas sejumlah prestasi tadi. Saat di tanya, apakah mau coba menyelam? Ooo tunggu dulu. Nah ini dia yang menjadi tantangan.

Tindak lanjut promosi bisa dilakukan dengan memberikan subsidi, keringanan biaya, untuk mereka yang serius ingin menekuni kegiatan selam. Biaya pendidikan yang cukup mahal sering menjadi alasan tidak dapat mewujudkan keinginan menekuni kegiatan selam. Padahal untuk menyelam dan menikmati keindahan bawah laut, haruslah memegang ijin menyelam (diving licence).

Sebagai gambaran tahun 2006 saya mengluarkan kocek sekitar 2 juta untuk mengambil pendidikan selam dan licence yang di keluarkan POSSI. Itu baru tingkat dasar. Untuk tahap lanjutan (advance) biaya lebih murah lagi sekitar 1.5 juta tahun 2007. Kog bisa lebih murah? Karena penekanan beberapa materi pelatihan seperti navigasi, penyelaman dalam (deep dive), dan penyelaman malam (night dive). Teori dasar tidak lagi di berikan. Tahun 2008 saya mengambil pendidikan Rescue Dive yang diselenggarakan PADI, mengeluarkan biaya sekitar 3 juta rupiah.

Okelah tidak perlu muluk-muluk, subsidi atau keringanan biaya cukup di berikan untuk tahap pemula/dasar. Cukup 50% dari total biaya pendidikan. Sifatnya selektif. Hanya mereka yang benar-benar suka dunia bawah air, ingin belajar nyelam n kurang biaya, patut di pertimbangkan mendapatkan subsidi. Pemegang licence tahap ini sudah boleh menyelam di mana saja, namun tetap ada beberapa aturan yang membatasi yang harus disiplin di patuhi.

Langkah merangkul komunitas penyelam. Tidak jarang para divers yang sudah memegang licence, ada kerinduan untuk saling komunikasi, berbagi pengalaman, ber-interaksi dengan sesamanya melalui satu wadah komunitas. Komunitas yang ada bisa dalam naungan lembaga pendidikan dimana penyelam tadi sama-sama mengambil licence, bisa juga indipenden.

Merangkul komunitas seperti ini akan berdampak positif untuk jangka panjang. Melalui kegiatan yang positif, misalnya acara Dinner Divers, night divers, open house divers, underwater presentation, dan kegiatan ringan dan santai lainnya bisa merangsang peminat-peminat baru khususnya masyarakat lokal menekuni kegiatan selam. Karena tidak jarang di antara anggota komunitas mengajak teman-teman baru-nya.

Itu tadi di kalangan umum. Merangkul calon-calon peminat baru di kalangan mahasiswa bukan lah upaya yang mustahil dilakukan. Sudah ada di sejumlah universitas memiiki klub MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam). Hanya saja pertanyaan seberapa banyak memasukan kegiatan selam sebagai agenda tetap kegiatannya?memang sudah ada sejumlah universitas yang memiliki klub selam. Kalau begitu upaya pembinaan jangan sampai berhenti. Melakukan pembinaan yang terus menerus agar gaungnya terus bergema, dalam jangka panjang akan semakin perbesar kuantitas dan kualitas kegiatan menyelam.

Akhirnya, kembali saya mengucapkan selamat kepada segenap pelaku kegiatan selam baik yang terlibat langsung maupun pasif, atas gelar kebanggaan. Semoga semakin hari kegiatan selam negeri ini semakin maju dan berkualitas.

PADI Rescue Dive 1007ASI784

article featured image
Older Post Newer Post

Another articles